Tidak ada kata salah dalam musik. Yang ada hanya enak dan tidak
enak didengar. Enak atau tidak enak didengarpun juga tidak sama antara satu
orang dengan yang lain. Jadi dalam musik kita bisa bebas berkreasi. Menumpahkan
segala emosi kita ke dalam karya kita. Dan kita juga harus mempunyai idealisme.
Karena orang tanpa idealisme akan selalu mengikuti orang lain. Dan pastinya
akan menghambat kreativitas kita.
Dalam bermusik kita tidak memerlukan istilah. Istilah hanya
digunakan untuk komunikasi antar musisi. Kita boleh membuat istilah kita
sendiri dalam musik. Apa yang penting adalah kita bisa merasakan musik itu
sendiri. Kata-kata, istilah, atau simbol tidak akan bisa mewakili perasaan.
Perasaan sangat penting dalam kehidupan. Maka ayo kita asah perasaan kita agar
kita dapat lebih memahami dunia ini.
Kita tidak cukup dengan hanya menggunakan otak kiri, atau otak kanan kita saja
dalam memahami musik. Kita dituntut untuk menyeimbangkan kedua otak kita. Otak
kiri digunakan untuk mengklasifikasi dan memahami pola. Otak kanan untuk
merasakan. Dengan komposisi yang pas dalam menggunakan otak kiri dan otak
kanan, kita akan lebih mudah dalam memahami segala hal.
Musik adalah seni. Seni dapat menghibur. Tapi apa jadinya jika musik hanya
diperuntukkan sebagai hiburan semata tanpa memperhatikan nilai seni. Sebagai
seniman kita seharusnya tetap memperhatikan nilai seni dari sebuah musik
walaupun musik tersebut adalah musik hiburan. Sebagai penikmat kita seharusnya
juga pandai memilih mana musik yang layak atau tidak layak didengarkan. Agar
pikiran kita berkembang dan penuh kreativitas, tidak statis dan mudah
terpengaruh oleh trend. Ingat, musik adalah senjata ampuh untuk mempengaruhi
seseorang.
Nilai seni dari sebuah musik adalah seberapa jauh imajinasi dan
kreativitas dari sang komposer. Semakin sulit ditebak sebuah lagu, maka semakin
besar nilai seninya. Tapi perbedaan antara nyeni dan ngawur itu sangat tipis.
Musik yang ngawur bisa menjadi sangat nyeni. Sebaliknya musik yang nyeni juga
bisa terlihat ngawur.
