Jumat, 27 Februari 2015

Menahan dan Memaksakan Diri

Sebelumnya saya kembali mengingatkan bahwa tulisan ini adalah sebuah penelitian pribadi dan tidak dapat digunakan sebagai acuan secara pasti.

Kita tahu bahwa setiap manusia mempunyai karakter yang berbeda satu sama lain. Karakter itu sendiri tersusun dari beberapa komponen (bukan seperti resistor atau kapasitor lho), kita sebut saja subkarakter, yang bernilai tertentu. Maksudnya seperti ini, kamu pernah main PES? Kalau pernah kamu pasti tahu kalau setiap pemain mempunyai skill yang berbeda. Kita ambil contoh, pemain A skill attack nya bernilai 91, defense nya 76, dan seterusnya. Attack dan defense itulah yang saya maksud sebagai subkarakter. Paham toh? Iya lah.

Karena subkarakter yang terdapat pada manusia jumlahnya tak terbatas (tidak seperti di PES yang cuma beberapa puluh saja), maka banyaknya kombinasi karakter manusia yang dapat dihasilkan sangat-sangat tidak terbatas (seperti pelajaran matematika SMA dulu malah ya?). Jadi kemungkinan dua manusia mempunyai karakter yang benar-benar sama adalah sangat kecil dan bisa kita anggap bernilai nol. Tidak percaya? Udah, percaya aja ya…


Kita cukupkan dulu basa-basinya (iya, itu baru basa-basi aja). Nah, tema kita adalah menahan dan memaksakan diri [kok cupu banget temanya?] (Eits, ini hasil penelitian saya selama berdetik-detik, bahkan bermenit-menit lho, jangan anggap remeh). [Jadi maksudnya apa ni menahan dan memaksakan diri?] Gini, menahan diri maksudnya menahan diri dari melakukan, melihat, mendengarkan, memakan (intinya semua yang berhubungan dengan indera kita) sesuatu yang menyenangkan [Emang gak boleh ya? Kan hiburan itu] (Nanti aja ngeyelnya ya…), sedangkan memaksakan diri maksudnya adalah memaksakan diri melakukan, melihat, mendengarkan sesuatu yang tidak menyenangkan [Buat apa kalo gak suka?] (…).