Sebelumnya saya kembali mengingatkan bahwa tulisan ini
adalah sebuah penelitian pribadi dan tidak dapat digunakan sebagai acuan secara
pasti.
Kita tahu bahwa setiap manusia mempunyai karakter yang
berbeda satu sama lain. Karakter itu sendiri tersusun dari beberapa komponen
(bukan seperti resistor atau kapasitor lho), kita sebut saja subkarakter, yang
bernilai tertentu. Maksudnya seperti ini, kamu pernah main PES? Kalau pernah
kamu pasti tahu kalau setiap pemain mempunyai skill yang berbeda. Kita ambil
contoh, pemain A skill attack nya
bernilai 91, defense nya 76, dan
seterusnya. Attack dan defense itulah yang saya maksud sebagai
subkarakter. Paham toh? Iya lah.
Karena subkarakter yang terdapat pada manusia jumlahnya tak
terbatas (tidak seperti di PES yang cuma beberapa puluh saja), maka banyaknya
kombinasi karakter manusia yang dapat dihasilkan sangat-sangat tidak terbatas
(seperti pelajaran matematika SMA dulu malah ya?). Jadi kemungkinan dua manusia
mempunyai karakter yang benar-benar sama adalah sangat kecil dan bisa kita
anggap bernilai nol. Tidak percaya? Udah, percaya aja ya…
Kita cukupkan dulu basa-basinya (iya, itu baru basa-basi
aja). Nah, tema kita adalah menahan dan memaksakan diri [kok cupu banget
temanya?] (Eits, ini hasil penelitian saya selama berdetik-detik, bahkan
bermenit-menit lho, jangan anggap remeh). [Jadi maksudnya apa ni menahan dan
memaksakan diri?] Gini, menahan diri maksudnya menahan diri dari melakukan,
melihat, mendengarkan, memakan (intinya semua yang berhubungan dengan indera kita)
sesuatu yang menyenangkan [Emang gak boleh ya? Kan hiburan itu] (Nanti aja
ngeyelnya ya…), sedangkan memaksakan diri maksudnya adalah memaksakan diri
melakukan, melihat, mendengarkan sesuatu yang tidak menyenangkan [Buat apa kalo
gak suka?] (…).
